Langsung ke konten utama

Kamu harus keluar dari daerahmu!

Kita hidup di dunia yang penuh dengan keberagaman, baik itu suku/etnis, budaya, agama, maupun bentang alamnya. Kita tidak akan pernah tau kondisi di tempat lain jika tidak pernah menjajakinya. Orang yang tidak pernah keluar dari daerahnya cenderung berpikiran sempit. Hal ini disebabkan karena keterbatasan dalam berpikir yang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang berlaku dalam lingkungan tempat tinggal yang sejenis. Tidak perlu keluar hingga ke tempat yang terlalu jauh, seperti keluar negeri. Cukup keluar dari golonganmu, kotamu, atau bahkan pulaumu. Niscaya kamu akan melihat banyaknya perbedaan diluar sana yang dapat memperkaya wawasan dan cara berpikir kita dalam menatap dunia. Begitu hebatnya ciptaan Sang Maha Kuasa, menciptakan beraneka macam makhluk dan detail bentang alam yang berbeda. Kita sebagai makhluk ciptaanNya yang dapat berpikiran kompleks disatukan atas dasar satu kesamaan, yakni manusia. Perbedaan golongan, budaya, warna kulit maupun bentang alam tempat kita tinggal menjadik...

Ketika Hewan Bisa Berbicara dalam Animal Farm


Judul: Animal Farm
Tahun penulisan: 1945
Penulis: George Orwell
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah halaman:144 halaman


Novel ini mengisahkan tentang kehidupan di sebuah peternakan yang bernama Peternakan Manor milik Pak Jones. Binatang ternak yang terdapat di peternakan itu terdiri atas babi, kuda, keledai, kambing, biri-biri, sapi, ayam, itik, burung dara, anjing, dan seekor kucing. Di dalam peternakan itu digambarkan bahwa para binatang tersebut memiliki kemampuan berbicara dan berpikir. Pak Jones merupakan seorang peternak yang kasar dan suka mabuk-mabukan. Kerap kali dia bertindak secara semena-mena pada binatang ternaknya sehingga para hewan sangat ketakutan padanya.

Suatu malam, seekor babi tua yang bijaksana dan disegani bernama Major menceritakan sebuah mimpinya. Ia mengumpulkan semua binatang di peternakan dan bercerita tentang mimpinya pada malam sebelumnya bahwa dalam mimpinya tersebut para binatang di Peternakan Manor yang selama ini telah hidup dibawah tirani manusia akhirnya berhasil melakukan pemberontakan terhadap manusia dan menciptakan sebuah dunia dimana binatang dapat berkuasa atas dirinya sendiri. Major mengajarkan sebuah lagu berjudul "Binatang Inggris" yang kata-katanya sangat membangkitkan semangat. Cerita mimpi itu seolah memberikan secercah harapan dan menyulut semangat berjuang demi kebebasan pada tiap-tiap binatang yang mendengarkannya.

Tak lama setelah itu, Major mati dan pemberontakan pun benar-benar terjadi. Kekuasaan manusia digulingkan di bawah kepemimpinan 2 ekor babi paling cerdas, Snowball dan Napoleon. Pak Jones dan istrinya diusir dan dengan berat hati terpaksa angkat kaki dari peternakan miliknya sendiri. Kehidupan awal para binatang pasca pemberontakan itu berjalan dengan sangat baik. Walaupun mereka harus mengelola peternakan sendiri dengan susah payah karena pekerjaan yang biasanya hanya dapat dikerjakan oleh manusia harus mereka kerjakan sendiri, namun musim panen kala itu berlimpah lebih dari harapan mereka. Para binatang sangat bahagia, mereka bangga akan hasil kerja kerasnya. Setiap suap pakan dihasilkan dari mereka sendiri, oleh mereka sendiri, dan untuk mereka sendiri, bukan dibagikan pada mereka oleh seorang majikan yang uring-uringan. Selain fokus pada pekerjaan peternakan, di bawah pimpinan Snowball dan Napoleon para binatang juga membuat beberapa organisasi khusus binatang, seperti Komisi Produksi Telur (bagi ayam-ayam betina), Liga Ekor Bersih (bagi para sapi), Gerakan Wol Lebih Putih (bagi para biri-biri), dan berbagai organisasi lainnya. Selain itu, mereka juga mendirikan kelas menulis dan membaca untuk para binatang yang buta aksara.

Namun kekuasaan ternyata sungguh memabukkan, baik itu untuk manusia maupun untuk para binatang. Napoleon yang haus akan kekuasaan akhirnya berusaha menyingkirkan Snowball dengan segala macam cara, mulai dari fitnah hingga kekerasan. Pada akhirnya Snowball pun terusir dari peternakan itu dengan dicap jelek oleh para binatang yang sudah terhasut oleh Napoleon. Alhasil Napoleon lah yang selanjutnya memimpin peternakan. Demokrasi yang semula digaungkan berbelok kembali menjadi tirani dimana pemimpin harus selalu benar. Napoleon berubah menjadi sosok pemimpin tiran yang kejam yang hanya mementingkan kepentingan kelompoknya, yakni para babi. Para binatang yang pada awal novel digambarkan sangat membenci sosok manusia, namun pada akhir novel Napoleon dan para babi justru bekerjasama dengan para pengusaha peternakan di sekitarnya. Manusia menganggap Napoleon sebagai sosok yang revolusioner karena dia berhasil memperoleh keuntungan yang sangat besar dari pengelolaan peternakan dengan hanya mengeluarkan biaya sangat kecil untuk memberi pakan para binatang. Hingga akhirnya, pada akhir novel para binatang tidak bisa membedakan wajah para babi dengan wajah manusia lagi karena sikap mereka pun nampak sama.

Semula aku tidak ada niatan untuk membeli novel ini. Novel ini aku beli sebagai upaya untuk menambahkan nominal tagihan pembelian buku agar mendapatkan promo free ongkir haha. Melihat dari covernya aku pikir novel ini mengisahkan tentang kehidupan binatang di peternakan sebagaimana normalnya terjadi. Namun ketika melihat ringkasan novel pada cover belakang aku mulai penasaran akan isinya. Dan setelah membaca hingga tuntas... booommm!! That was very very awesome! Penulis Eric Arthur Blair (nama asli George Orwell) mengisahkannya dengan sangat epik. Aku sangat suka gaya penulisannya. Gaya penulisannya biasa disebut sebagai gaya satire, yakni gaya bahasa yang digunakan untuk menyindir suatu keadaan. Mungkin seharusnya para pemimpin dunia wajib untuk membaca novel satu ini ya haha.

Setelah membaca novel ini aku teringat akan penjelasan salah seorang dosen yang mengajarku ketika kuliah. Aku agak lupa itu pendapatnya sendiri atau pendapat yang dikutip dari salah satu buku. Inti dari penjelasan itu adalah bahwa bentuk pemerintahan yang paling sempurna untuk diterapkan di negara-negara saat ini adalah demokrasi. Kala itu aku sependapat dengan penjelasan yang dituturkan oleh dosenku tersebut. Namun novel animal farm ini menyadarkanku. Nothing's perfect in this world. Iya, tidak ada satu pun yang sempurna di dunia ini, termasuk bentuk pemerintahan. Setiap bentuk pemerintahan memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Dan dari kekurangan tersebut tidak seharusnya kita menyalah-nyalahkan bentuk pemerintahan yang lain dan menganggap bentuk pemerintahan negara sendiri yang paling benar. Siapa tau juga suatu hari nanti akan tercipta sistem pemerintahan yang baru dan lebih sempurna. Selain itu, dari novel ini aku menyadari adanya sebuah siklus yang akan terjadi pada bentuk pemerintahan di mayoritas negara, yakni:
Siklus tersebut aku namakan Government Wheel Cycle. Siklus ini mirip dengan siklus yang dikemukakan oleh Polybius, salah seorang murid Aristoteles. Namun pada Siklus Polybius nampak lebih terperinci perubahan bentuk pemerintahannya, ada 6 bentuk pemerintahan yang terlibat sedangkan ini hanya 3. Kondisi seperti itu bisa kita lihat dengan jelas dari wilayah yang saat ini dikenal sebagai Negara Prancis. Wilayah Prancis pada mulanya berbentuk monarki atau kerajaan, yang membedakan perlakuan kepada masyarakat berdasarkan stratifikasi sosialnya. Pemerintahan dikuasai oleh sejumlah orang yang berasal dari golongan kerajaan dan bangsawan yang gelar-gelar tersebut bisa diwariskan secara turun-temurun. Sedangkan orang-orang yang tidak termasuk golongan tersebut tidak memiliki hak untuk turut andil dalam menentukan arah pemerintahan. Kondisi tersebut lama-kelamaan membuat penguasa monarki terlena akan tahta dan harta yang dimilikinya sehingga berlaku semena-mena pada rakyatnya dan melahirkan apa yang disebut tirani. Tirani tersebut menyebabkan stratifikasi sosial yang ada semakin renggang antara golongan yang satu dengan yang lain. Hingga apa yang dipopulerkan oleh Karl Marx sebagai kaum borjuis (pemilik modal) dan kaum proletar (rakyat jelata). Kaum borjuis di anak emaskan, sedangkan kaum proletar di anak tirikan. Dalam pemikiran Karl Marx, kaum proletar merupakan kelas kedua yang akan menerima gaji dari kelas pertama yang merupakan majikannya, yakni kaum borjuis. Kaum proletar merupakan orang-orang yang tidak bisa menciptakan lapangan kerja sendiri sehingga harus menumpang pada para pemodal untuk memproduksi barang/jasa sehingga mereka sering kali diperas tenaganya dan diberikan gaji yang rendah guna meraup laba sebesar-besarnya bagi pemodal. Hingga pada akhir abad ke-18, kaum proletar tersebut memberontak dan terciptalah apa yang saat ini dikenal dengan istilah Revolusi Prancis. Revolusi Prancis tersebut menghapuskan bentuk pemerintahan yang selama ini ada dan mengubahnya menjadi bentuk republik demokrasi. Kondisi bentuk pemerintahan tersebut bisa berubah kembali ke monarki jika pemerintahan hanya dikendalikan oleh golongan-golongan tertentu itu saja.

Government Wheel Cycle tersebut akan terus berputar dalam suatu negara. Hal ini dikarenakan bentuk pemerintahan yang ideal bagi suatu negara harus lah yang sesuai dengan kondisi sosial masyarakatnya, sedangkan masyarakat itu bersifat dinamis. Tidak bisa semata-mata memaksakan kehendak para penguasa untuk menentukan bentuk pemerintahan. Pada dasarnya bentuk pemerintahan apapun itu baik selama penguasanya memperhatikan rakyatnya tanpa terkecuali dan tidak mudah terlena dengan godaan harta dan tahta. Jika seorang penguasa yang awalnya memiliki niatan baik untuk mensejahterakan rakyatnya namun setelah menjabat dia tergoda oleh harta dan tahta maka tak ayal siklus tersebut akan terjadi. Siklus ini bisa terjadi dengan sendirinya tanpa perlu suatu pemerintahan yang berkuasa mengubah konstitusi negara. Sebenarnya kondisi bentuk pemerintahan di negaraku tercinta, Indonesia, tidak berbeda jauh dengan Prancis. Walaupun konstitusi negara, UUD 1945, menyatakan bentuk pemerintahan adalah republik, yang dalam pelaksanaannya dilakukan secara demokrasi namun menurutku semenjak kemerdekaan negara ini telah mengalami siklus tersebut berulang-kali jika kita sadari. Apakah menurut kalian juga sama? Komentar dibawah ya. Thank you.

Komentar

  1. Novelnya menarik, penulisan blog bagus, membandingkan cerita dengan kehidupan pemerintahan sekarang juga, bahkan sampeai membuat teory sendiri.

    Good Job, Lanjutkan

    BalasHapus
  2. Ulasan tentang novelnya sangat menarik, tulisannya enak dibaca, membuat sy ga sabar menunggu ulasan2 berikutnya. Semangad Kak 💪🏻😘, lanjutkan berkarya 👍🏻

    BalasHapus

Posting Komentar