Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Kamu harus keluar dari daerahmu!

Kita hidup di dunia yang penuh dengan keberagaman, baik itu suku/etnis, budaya, agama, maupun bentang alamnya. Kita tidak akan pernah tau kondisi di tempat lain jika tidak pernah menjajakinya. Orang yang tidak pernah keluar dari daerahnya cenderung berpikiran sempit. Hal ini disebabkan karena keterbatasan dalam berpikir yang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang berlaku dalam lingkungan tempat tinggal yang sejenis. Tidak perlu keluar hingga ke tempat yang terlalu jauh, seperti keluar negeri. Cukup keluar dari golonganmu, kotamu, atau bahkan pulaumu. Niscaya kamu akan melihat banyaknya perbedaan diluar sana yang dapat memperkaya wawasan dan cara berpikir kita dalam menatap dunia. Begitu hebatnya ciptaan Sang Maha Kuasa, menciptakan beraneka macam makhluk dan detail bentang alam yang berbeda. Kita sebagai makhluk ciptaanNya yang dapat berpikiran kompleks disatukan atas dasar satu kesamaan, yakni manusia. Perbedaan golongan, budaya, warna kulit maupun bentang alam tempat kita tinggal menjadik...

Manusia Hidup Tak Pernah Bebas dari Nilai

Manusia dilahirkan dengan kehendak bebas, terlepas dari kepercayaan apakah kehendak tersebut merupakan kehendak yang sudah ditakdirkan sebelumnya oleh Tuhan atau memang berasal dari diri pribadinya. Oleh karena tiap manusia memiliki kehendak bebas itulah sering kali terjadi pertentangan antara kehendak satu orang dengan orang yang lain. Hal ini tidak terlepas dari nilai-nilai yang dianut oleh tiap-tiap individu. Nilai yang dimaksud disini tidak seperti nilai-nilai yang kita peroleh atas tugas yang kita kerjakan ketika kita di bangku sekolah ataupun bangku perkuliahan. Nilai-nilai seperti itu tentu lah mudah kita pahami karena berwujud nyata dan memiliki skala riil, namun nilai yang akan dibahas pada artikel ini adalah suatu hal berwujud abstrak yang dianut oleh masing-masing individu dan berskala idiil. Jika skala riil bisa dimaknai sebagai suatu ketetapan yang pasti, baik buruk atau benar salah, maka skala idiil sebaliknya. Skala idiil bergantung pada sikap batin dan kondisi seseorang...

Mengemban Jabatan Layaknya Max Havelaar

Judul: Max Havelaar Tahun penulisan: 1860 Penulis: Multatuli Penerbit: Qanita Jumlah halaman: 480 halaman Pada cover depan, Pramoedya Ananta Toer menyebut buku Max Havelaar ini sebagai buku yang membunuh kolonialisme. Akan tetapi setelah membaca buku ini hingga akhir, aku rasa buku ini bukan hanya sekedar buku yang dapat membunuh kolonialisme namun buku ini juga dapat memanggil rasa keadilan dan kemanusiaan pada tiap-tiap nurani yang membacanya. Buku ini sedikit banyak mengungkapkan alasan kenapa Nusantara, yang sekarang dikenal sebagai Indonesia, selama bertahun-tahun setelah jaman kerajaan hingga kemerdekaan 17 Agustus 1945 tidak pernah berdaulat atas wilayahnya sendiri. Berlatar kehidupan di tahun 1800-an ketika Belanda menduduki wilayah Nusantara, novel ini utamanya mengisahkan tentang kehidupan Max Havelaar, seorang Asisten Residen Lebak Banten. Selain kisah mengenai Max Havelaar, novel ini juga mengisahkan kehidupan Tuan Batavus Droogstoppel, si makelar kopi, dan kisah cinta trag...