Kita hidup di dunia yang penuh dengan keberagaman, baik itu suku/etnis, budaya, agama, maupun bentang alamnya. Kita tidak akan pernah tau kondisi di tempat lain jika tidak pernah menjajakinya. Orang yang tidak pernah keluar dari daerahnya cenderung berpikiran sempit. Hal ini disebabkan karena keterbatasan dalam berpikir yang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang berlaku dalam lingkungan tempat tinggal yang sejenis. Tidak perlu keluar hingga ke tempat yang terlalu jauh, seperti keluar negeri. Cukup keluar dari golonganmu, kotamu, atau bahkan pulaumu. Niscaya kamu akan melihat banyaknya perbedaan diluar sana yang dapat memperkaya wawasan dan cara berpikir kita dalam menatap dunia. Begitu hebatnya ciptaan Sang Maha Kuasa, menciptakan beraneka macam makhluk dan detail bentang alam yang berbeda. Kita sebagai makhluk ciptaanNya yang dapat berpikiran kompleks disatukan atas dasar satu kesamaan, yakni manusia. Perbedaan golongan, budaya, warna kulit maupun bentang alam tempat kita tinggal menjadik...
Keadilan adalah suatu rasa yang dituntut atau diharapkan oleh masing-masing manusia atas perbuatan yang sudah dikerjakan dan/atau sudah diterima. Seperti halnya prinsip give and take. Walau terkadang ada manusia yang berucap tidak mengharapkan balasan atas perbuatannya namun hati kecilnya bisa jadi berkata lain. Oleh karena keadilan adalah rasa yang dimiliki masing-masing manusia, maka kemungkinan besar tiap-tiap orang memiliki perbedaan pandangan tentang nilai atas suatu keadilan. Bisa jadi bagi seseorang hal tersebut sudah adil, namun bagi orang lain hal tersebut belum lah menjadi adil, seperti itu. Lalu yang menjadi masalah:
Siapakah yang bisa memberikan keadilan?
Apakah hakim yang banyak dari mereka masih mau menerima suap dari para pihak yang berperkara?
Atau orang-orang yang duduk nyaman di kursi legislator yang membawa kepentingan golongannya masing-masing dengan mengatasnamakan rakyat?
Atau penguasa yang hanya bisa melihat kondisi rakyatnya dibalik tirai?
Atau hanya Tuhan yang bisa memberikan keadilan?
Pada teorinya, Aristoteles telah membagi keadilan menjadi 5 macam, yakni:
- Keadilan komunikatif, yakni suatu perlakuan kepada seseorang tanpa melihat jasa-jasanya.
- Keadilan distributif, yakni suatu perlakuan kepada seseorang yang sesuai dengan jasa-jasa yang telah dilakukan
- Keadilan kodrat alam, yakni suatu perlakuan kepada seseorang yang sesuai dengan hukum alam
- Keadilan konvensional, yakni suatu keadilan yang terjadi dimana seseorang telah mematuhi suatu perundang-undangan
- Keadilan perbaikan, yakni suatu keadilan yang terjadi dimana seseorang telah mencemarkan nama baik orang lain
Kebijaksanaan ibarat sebuah jembatan yang memisahkan 2 (dua) wilayah, yakni wilayah para penuntut keadilan dan wilayah mereka yang dituntut. Meskipun begitu tidak semua orang mampu memberikan apa yang disebut sebagai kebijaksanaan ini. Hanya orang-orang terpilih lah yang sanggup memberikannya. Seseorang yang mampu memberikan kebijaksanaan adalah mereka yang mampu berdiri seimbang diantara kedua pihak yang saling menuntut keadilan masing-masing, terlepas dari kepentingan semua pihak yang terlibat. Orang yang bijak akan mampu menimbang baik dan buruknya suatu keadaan serta menerima konsekuensi sesudahnya berdasarkan akal pikiran dan nuraninya. Menjadi bijaksana tak lain ialah berusaha untuk mendekati adil :)

Nice article 👍🏻👍🏻👍🏻
BalasHapus