Kita hidup di dunia yang penuh dengan keberagaman, baik itu suku/etnis, budaya, agama, maupun bentang alamnya. Kita tidak akan pernah tau kondisi di tempat lain jika tidak pernah menjajakinya. Orang yang tidak pernah keluar dari daerahnya cenderung berpikiran sempit. Hal ini disebabkan karena keterbatasan dalam berpikir yang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang berlaku dalam lingkungan tempat tinggal yang sejenis. Tidak perlu keluar hingga ke tempat yang terlalu jauh, seperti keluar negeri. Cukup keluar dari golonganmu, kotamu, atau bahkan pulaumu. Niscaya kamu akan melihat banyaknya perbedaan diluar sana yang dapat memperkaya wawasan dan cara berpikir kita dalam menatap dunia. Begitu hebatnya ciptaan Sang Maha Kuasa, menciptakan beraneka macam makhluk dan detail bentang alam yang berbeda. Kita sebagai makhluk ciptaanNya yang dapat berpikiran kompleks disatukan atas dasar satu kesamaan, yakni manusia. Perbedaan golongan, budaya, warna kulit maupun bentang alam tempat kita tinggal menjadik...
Anak-anak kecil umumnya banyak memiliki pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan di dunia ini. Hal itu wajar saja terjadi karena mereka belum banyak mengenal dunia. Seperti pertanyaan terkait: Bagaimana caranya air bisa jatuh dari langit ketika hujan? Seperti apa ujung dari pelangi? Kenapa kedelai berbentuk bulat? Atau pertanyaan seperti apakah Tuhan itu ada? Seperti apakah wujudNya? Namun banyak orang dewasa yang mengabaikan pertanyaan-pertanyaan mereka dengan dalih banyak hal yang bisa anak kecil tersebut kerjakan tanpa harus mempertanyakan pertanyaan seperti itu. Sebenarnya mempertanyakan hal yang terlihat remeh di mata orang dewasa itu tidak ada salahnya. Justru sebagai orang dewasa, yang sudah lebih awal hidup di dunia, sudah seharusnya kita menjawabnya dan berusaha menjelaskan jawaban yang masuk akal dari pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
Pada dasarnya pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah bentuk pertanyaan filosofis. Perlu diingat, filsafat adalah ibu dari segala macam ilmu. Jadi kita tidak bisa menutup mata pada satu bidang ilmu tersebut, karena tanpa kita sadari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa kita nikmati di era sekarang berasal dari pertanyaan-pertanyaan sesederhana itu. Dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap orang di dunia ini setidaknya pernah dalam satu waktu kehidupannya berada pada posisi pola pikir filosofis, yakni pada masa anak-anak. Kenapa anak-anak bisa memiliki pola pikir filosofis? Karena pikiran mereka masih bebas, tidak dibatasi oleh norma-norma tertentu layaknya orang dewasa. Akan tetapi, tidak banyak anak yang bisa mengembangkan pola pikir filosofisnya. Hal tersebut disebabkan sedikit banyak oleh pengaruh atau tekanan lingkungan dimana ia hidup, baik dari keluarga ataupun lingkungan bermain.
Mempertanyakan tentang esensi hidup juga merupakan bagian dari pola pikir filosofis. Bisa jadi bagi sebagian orang pertanyaan itu adalah pertanyaan yang membuang-buang waktu untuk sekedar memikirkannya. Tetapi mengetahui esensi hidup kita bukan berarti tidak ada gunanya sama sekali. It doesn't waste your time! Esensi hidup bisa diartikan sebagai arti penting keberadaan kita pada kehidupan di dunia ini atau untuk tujuan apa kita diciptakan di dunia ini olehNya. Ibarat seorang anak kecil yang tidak tau apa-apa, kita terlahir di dunia ini juga tanpa mengetahui esensi hidup kita. Oleh sebab itu sebagai makhluk yang tercipta dengan akal dan naluri sudah seharusnya kita mencaritaunya.
Tentunya setiap orang bisa memiliki esensi hidup yang berbeda, bisa jadi juga sama. Itu tidak menjadi masalah selama diri pribadi lah yang menentukan esensi hidupnya. Pada sebagian orang esensi hidup bisa jadi ditentukan atau dipaksa diterapkan oleh orang lain maupun lingkungan tempatnya hidup. Hal ini semata karena pada dasarnya orang dewasa menyukai kestabilan dan kenyamanan. Jadi mereka tidak mau repot-repot keluar dari zonanya untuk hanya sekedar memikirkan tentang esensi hidup mereka sendiri, cukuplah menggunakan esensi hidup sebagaimana template yang disediakan orang lain atau lingkungannya.
Kita juga tidak boleh lupa bahwa manusia terlahir dengan membawa hak asasi manusia. Hal tersebut mengindikasikan bahwa setiap orang juga berhak menentukan sendiri esensi hidupnya, tanpa paksaan. Mengetahui esensi hidup ibarat mengetahui garis finish. Sekalipun banyak rintangan untuk mencapai garis finish tersebut dengan mempertahankan jalur yang dipilih semula atau menggunakan jalur lain yang lebih mudah kita tidak akan tersesat atau bahkan kembali ke titik awal. Kita tidak perlu menjiplak esensi hidup orang lain karena masing-masing dari kita memiliki ciri khas atau keunikan sendiri. It's okay to be different! Mengetahui esensi hidup kita adalah tugas kita sebagai manusia. Darimana kita bisa memulai untuk mencarinya? Dari dalam diri kita sendiri. Maka mulailah untuk menggali. 😊

Komentar
Posting Komentar