Langsung ke konten utama

Kamu harus keluar dari daerahmu!

Kita hidup di dunia yang penuh dengan keberagaman, baik itu suku/etnis, budaya, agama, maupun bentang alamnya. Kita tidak akan pernah tau kondisi di tempat lain jika tidak pernah menjajakinya. Orang yang tidak pernah keluar dari daerahnya cenderung berpikiran sempit. Hal ini disebabkan karena keterbatasan dalam berpikir yang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang berlaku dalam lingkungan tempat tinggal yang sejenis. Tidak perlu keluar hingga ke tempat yang terlalu jauh, seperti keluar negeri. Cukup keluar dari golonganmu, kotamu, atau bahkan pulaumu. Niscaya kamu akan melihat banyaknya perbedaan diluar sana yang dapat memperkaya wawasan dan cara berpikir kita dalam menatap dunia. Begitu hebatnya ciptaan Sang Maha Kuasa, menciptakan beraneka macam makhluk dan detail bentang alam yang berbeda. Kita sebagai makhluk ciptaanNya yang dapat berpikiran kompleks disatukan atas dasar satu kesamaan, yakni manusia. Perbedaan golongan, budaya, warna kulit maupun bentang alam tempat kita tinggal menjadik...

Manusia Hidup Tak Pernah Bebas dari Nilai

Manusia dilahirkan dengan kehendak bebas, terlepas dari kepercayaan apakah kehendak tersebut merupakan kehendak yang sudah ditakdirkan sebelumnya oleh Tuhan atau memang berasal dari diri pribadinya. Oleh karena tiap manusia memiliki kehendak bebas itulah sering kali terjadi pertentangan antara kehendak satu orang dengan orang yang lain. Hal ini tidak terlepas dari nilai-nilai yang dianut oleh tiap-tiap individu. Nilai yang dimaksud disini tidak seperti nilai-nilai yang kita peroleh atas tugas yang kita kerjakan ketika kita di bangku sekolah ataupun bangku perkuliahan. Nilai-nilai seperti itu tentu lah mudah kita pahami karena berwujud nyata dan memiliki skala riil, namun nilai yang akan dibahas pada artikel ini adalah suatu hal berwujud abstrak yang dianut oleh masing-masing individu dan berskala idiil.

Jika skala riil bisa dimaknai sebagai suatu ketetapan yang pasti, baik buruk atau benar salah, maka skala idiil sebaliknya. Skala idiil bergantung pada sikap batin dan kondisi seseorang, baik itu kondisi ekonomi, kondisi sosial, dan sebagainya. Sehingga skala idiil yang dianut oleh seseorang pada saat tertentu bisa saja berbeda dengan orang lain pada waktu itu atau skala idiil yang dianut seseorang pada saat ini bisa jadi berbeda di kemudian waktu, dan tak menutup kemungkinan skala idiil antara dua orang yang semula berbeda dikemudian hari menjadi sama.

Ketika manusia dilahirkan di dunia ini dia sama sekali tidak memiliki nilai bahkan sama sekali tidak tau apa itu nilai. Nilai-nilai yang dianut oleh seseorang pertama kali bersumber dari keluarga, terutama dari kedua orang tuanya. Seiring bertambahnya usia, sumber-sumber nilai tersebut semakin beragam, mulai dari tetangga, teman, guru, hingga dunia maya. Baru lah ketika manusia hidup berdampingan dengan lingkungan tumbuh kembangnya tersebut, ia memiliki kehendak bebas untuk memilih nilai yang akan dianutnya. Maka tidak menjadi heran ketika kita dinilai oleh orang lain, karena kita juga berhak menilai orang lain atas dasar kehendak bebas tersebut.

Segala hal yang akan kita lakukan di dunia ini pasti tidak akan terlepas dari pandangan penilaian orang lain, apakah orang lain tersebut sepenilaian dengan kita atau justru sebaliknya. Janganlah menjadi marah atau benci ketika nilai yang kita anut berbeda dengan nilai yang dianut oleh orang lain. Justru karena perbedaan itulah kita bisa menjadi lebih manusiawi. Memang pada dasarnya manusia itu akan cenderung berkelompok dengan orang-orang yang sepandangan nilai dengan mereka. Namun perbedaan pandangan nilai tersebut harusnya kita rangkul bukan justru kita cibir atau bahkan kita adu. Bukankah manusia diciptakan oleh Tuhan sengaja berbeda-beda antara manusia yang satu dengan manusia lainnya? :)

Komentar

Posting Komentar