Kita hidup di dunia yang penuh dengan keberagaman, baik itu suku/etnis, budaya, agama, maupun bentang alamnya. Kita tidak akan pernah tau kondisi di tempat lain jika tidak pernah menjajakinya. Orang yang tidak pernah keluar dari daerahnya cenderung berpikiran sempit. Hal ini disebabkan karena keterbatasan dalam berpikir yang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang berlaku dalam lingkungan tempat tinggal yang sejenis. Tidak perlu keluar hingga ke tempat yang terlalu jauh, seperti keluar negeri. Cukup keluar dari golonganmu, kotamu, atau bahkan pulaumu. Niscaya kamu akan melihat banyaknya perbedaan diluar sana yang dapat memperkaya wawasan dan cara berpikir kita dalam menatap dunia. Begitu hebatnya ciptaan Sang Maha Kuasa, menciptakan beraneka macam makhluk dan detail bentang alam yang berbeda. Kita sebagai makhluk ciptaanNya yang dapat berpikiran kompleks disatukan atas dasar satu kesamaan, yakni manusia. Perbedaan golongan, budaya, warna kulit maupun bentang alam tempat kita tinggal menjadik...
Judul: Max Havelaar
Tahun penulisan: 1860
Penulis: Multatuli
Penerbit: Qanita
Jumlah halaman: 480 halaman
Pada cover depan, Pramoedya Ananta Toer menyebut buku Max Havelaar ini sebagai buku yang membunuh kolonialisme. Akan tetapi setelah membaca buku ini hingga akhir, aku rasa buku ini bukan hanya sekedar buku yang dapat membunuh kolonialisme namun buku ini juga dapat memanggil rasa keadilan dan kemanusiaan pada tiap-tiap nurani yang membacanya. Buku ini sedikit banyak mengungkapkan alasan kenapa Nusantara, yang sekarang dikenal sebagai Indonesia, selama bertahun-tahun setelah jaman kerajaan hingga kemerdekaan 17 Agustus 1945 tidak pernah berdaulat atas wilayahnya sendiri. Berlatar kehidupan di tahun 1800-an ketika Belanda menduduki wilayah Nusantara, novel ini utamanya mengisahkan tentang kehidupan Max Havelaar, seorang Asisten Residen Lebak Banten. Selain kisah mengenai Max Havelaar, novel ini juga mengisahkan kehidupan Tuan Batavus Droogstoppel, si makelar kopi, dan kisah cinta tragis antara Saidjah dengan Adinda. Namun untuk mempersingkat penulisan, tulisan kali ini sengaja aku fokuskan pada kisah kehidupan Max Havelaar saja. Penasaran kan? Selamat membaca :D
Diawali dengan narasi dari Tuan Droogstoppel, seorang makelar kopi dari Firma Last & Co, yang mengaku bahwa ia tidak terbiasa menulis novel atau karya sastra. Bahkan dia cenderung memandang negatif pada orang-orang yang bergelut di bidang tersebut, termasuk pada orang-orang yang menyukai karya-karya seperti itu. Dia beranggapan bahwa seorang penyair sejatinya adalah orang kurang ajar yang menceritakan kisah yang sering kali mustahil bisa terjadi. Dan sebagai seorang pebisnis terhormat dia tidak mau ikut terjerumus dalam kebohongan itu. Baginya, semboyan hidupnya hanyalah "Kebenaran dan akal sehat", dengan perkecualian Kitab Suci.
Suatu malam ketika sedang berjalan-jalan, Tuan Droogstoppel tidak sengaja bertemu dengan seorang teman sekolah lamanya. Ia memberinya sebutan 'Sjaalman', karena alih-alih memakai mantel musim dingin seperti kebanyakan orang, teman lamanya tersebut justu memakai syal kotak-kotak yang nampak lusuh. Hingga akhir novel kita tidak akan bisa mengetahui nama asli tokoh tersebut, jadi sebut saja 'Sjaalman' (haha). Tuan Droogstoppel mengingat Sjaalman kecil sebagai sosok yang tangkas, pemberani, dan sangat pintar. Bahkan Sjaalman adalah satu-satunya teman yang mau menyelamatkannya dari orang Yunani yang menghajarnya ketika masih kecil. Namun karena melihat kondisi Sjaalman yang ia temui saat ini, pucat dan lusuh, ia merasa Sjaalman bukanlah teman yang bisa dia banggakan. Ia tidak senang berjumpa kembali dengan lelaki itu dan berusaha untuk menghindari percakapan dengannya sebisa mungkin, bahkan ketika Sjaalman ingin meminta pertolongannya.
Beberapa hari setelah pertemuan tersebut Droogstoppel menerima sebuah paket besar dengan disertai sebuah surat. Berdasarkan isi surat yang ia terima, ternyata itu semua berasal dari Sjaalman. Paket tersebut berisi karya-karya ciptaan Sjaalman, mulai dari puisi-puisi, tulisan/essay tentang berbagai bidang, lagu-lagu perang dalam Bahasa Jawa, kisah-kisah roman dalam Bahasa Melayu, cuplikan acak dari buku harian, hingga dokumen-dokumen resmi. Sjaalman ingin meminta tolong kepada Droogstoppel agar ia bersedia menjadi penjamin pada pihak penerbit agar mereka mau menerbitkan karyanya. Kondisi keuangan Sjaalman yang buruk menyebabkan dia ditolak oleh para penerbit. Hal ini dikarenakan para penerbit meminta pembayaran di muka untuk semua biaya yang akan dikeluarkan. Sjaalman yakin meskipun dia belum memiliki reputasi sebagai penulis, karya-karyanya sangat bernilai isinya. Semula Droogstoppel tidak berminat untuk membantu menerbitkan karya-karya Sjaalman tersebut. Namun setelah menemukan beberapa tulisan terkait kopi dan demi kepentingan menarik simpati Tuan Ludwig Stern, seorang pedagang kopi terkemuka di Hamburg, melalui anaknya yang berbakat sastra, Ernest Stern, akhirnya Droogstoppel bekerjasama dengan Ernest Stern untuk menyelesaikan buku serta menerbitkannya (Pada pembahasan selanjutnya Ernest Stern akan disebut sebagai Stern, untuk mempersingkat penulisan ya!).
Kisah yang semula berputar pada kehidupan Tuan Droogstoppel si makelar kopi dari Amsterdam seketika beralih ke kehidupan seorang Asisten Residen baru di Lebak yang dalam penulisannya didominasi oleh pandangan Stern. Sebelum kisahnya beranjak pada kehidupan Max Havelaar, Stern menggambarkan bentang alam yang ada di Nusantara dengan detail hingga kondisi strata sosialnya yang tidak jauh berbeda dengan di Belanda. Kesewenang-wenangan yang dilakukan baik oleh pejabat pribumi maupun pejabat Eropa pun tak luput dari fokus penggambaran oleh Stern. Max Havelaar adalah lelaki berusia sekitar 35 tahun yang penuh kontradiksi, ia mampu berpikir setajam silet namun juga berhati selembut anak perempuan. Saat ditempatkan di Lebak ia juga membawa serta keluarga kecilnya untuk tinggal disana, terdiri dari seorang istri dan seorang anak lelaki kecil. Ketika baru tiba di Lebak, ia langsung disambut oleh ratusan orang, termasuk Residen, Bupati, dan Pengawas. Sebenarnya Max tidak terlalu menyukai kondisi tersebut karena ia tau untuk mengadakan upacara penyambutan yang semeriah itu rakyat-rakyat kecil diharuskan menyumbangan sebagian harta, waktu, dan tenaga mereka dan seorang Max Havelaar bukanlah orang yang tega melihat rakyatnya sendiri diperas.
Meskipun Max Havelaar merupakan seorang pejabat Kerajaan Belanda, ia tidak pernah menganggap pekerjaannya sebagai sumber pendapatan. Dia tidak seperti pejabat-pejabat kebanyakan yang ambisinya mengemis-ngemis pada atasan untuk memperoleh kenaikan jabatan atau kenaikan gaji. Selama ini ia hidup miskin yang oleh karenanya mengaruskan dia untuk selalu berhemat. Hutang-hutang yang ia miliki pun tidak sedikit. Itu semua bukan karena keluarganya tidak bisa mengatur keuangan dan suka berfoya-foya, melainkan akibat adanya gairah yang ia miliki untuk menolong orang lain. Dia sendiri sesungguhnya sudah cukup puas apabila kebutuhan mendasar hidupnya terpenuhi, bahkan sering kurang dari itu. Tapi jika ada orang lain yang memerlukan bantuan, menolong dan memberi merupakan hasrat sekaligus kelemahan terbesarnya. Sering kali istri dan anaknya yang sangat ia cintai harus menderita akibat kemurahan hatinya tersebut. Beruntung baginya memiliki seorang istri yang sangat pengertian dan mencintainya sehingga selalu menyetujui segala perbuatan suaminya itu.
Pada rapat pertama setelah pengangkatannya, ia mengumpulkan para pejabat se-Lebak untuk memberikan pidato pertamanya sekaligus menerima laporan tertulis dari mereka. Ia berpidato dengan sangat fasih disertai tatapan yang memancarkan api seolah membangkitkan semangat juang bagi tiap-tiap orang yang mendengar pidatonya pada hari itu. Pada pidatonya ia mengungkapkan komitmennya untuk menjunjung tinggi sumpah jabatannya demi keadilan dan kemakmuran penduduk Lebak. Tak luput juga ia mengajak para pejabat seluruh Lebak untuk turut serta mengupayakan tujuannya tersebut. Dia akan mendukung dan mengapresiasi tiap-tiap pejabat yang berupaya untuk menjadi lebih baik dari sekarang. Selain itu, ia juga melarang keras para pejabat untuk menyalahgunakan kedudukannya kepada rakyat serta membuka kesempatan seluas-luasnya bagi tiap-tiap orang yang mau mengungkapkan ketidakadilan dan kesewenangan yang terjadi disana langsung kepadanya guna ditindaklanjuti olehnya.
Ada seorang janda yang tinggal di rumah sebelah kediaman Max Havelaar sekeluarga yang bernama Madam Slotering. Madam Slotering merupakan istri dari Asisten Residen Lebak sebelumnya yang percaya bahwa suaminya tersebut mati karena diracun oleh seseorang ketika hendak mengungkapkan keburukan beberapa pejabat di Lebak. Namun karena kurangnya bukti ia justru dicap buruk oleh masyarakat sekitar. Max Havelaar yang menemukan bukti-bukti adanya tindakan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) dari sejumlah pejabat di Lebak itu pun ingin meneruskan perjuangan Asisten Residen Lebak sebelumnya dan memberikan keadilan bagi Madam Slotering beserta anaknya yang masih kecil. Selain itu, semenjak sikap keberanian untuk menegakkan keadilan yang dimiliki Max terdengar hingga ke seantero Lebak, ia banyak mendapatkan laporan langsung dari para penduduk mengenai kesewenang-wenangan para pejabat di daerah. Mereka yang menggantungkan harapan keadilan padanya rela menempuh jarak berpuluh bahkan beratus kilometer demi mendatangi rumah Max secara mengendap-endap dari halaman belakang di malam hari, yang sering kali hal tersebut membuat istri dan anak Max ketakutan sendiri. Hal tersebut semata-mata dilakukan karena penduduk sudah tidak tahan lagi hidup dalam kesusahan, kemelaratan, dan kesengsaraan yang dibuat oleh para pejabat yang bahkan berasal dari tanah air yang sama.
Singkat cerita Max Havelaar telah mengupayakan segala cara, melaporkan kepada Residen hingga ke Gubernur Jenderal yang tinggal di ibukota namun tidak ada yang menggubrisnya. Meskipun Max juga mendapat intimidasi atau ancaman dari pejabat yang dilaporkannya tetapi ia tak patah arang dan terus mengupayakan untuk diadakan investigasi yang netral terbebas dari semua pengaruh kekuasaan. Semula ia berpikir kesewenang-wenangan para pejabat tersebut timbul karena pemerintah pusat tidak mengetahuinya. Namun ternyata setelah ia cari tau lebih dalam, bukan hanya karena pemerintah pusat yang sengaja mengabaikan jeritan penderitaan rakyat namun juga karena mereka secara tidak langsung turut terlibat untuk menciptakan penderitaan. Pada akhirnya Gubernur Jenderal membalas suratnya setelah sekian lama dan justru mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap kecurigaan dan bukti-bukti yang diajukan oleh Max. Gubernur Jenderal memutuskan untuk memindahtugaskan Max ke Ngawi. Max Havelaar memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya daripada harus mengingkari janji yang dibuatnya dengan para penduduk Lebak yang menggantungkan harapan padanya.
Sungguh ironis. Pada akhirnya orang yang menegakkan keadilan harus disingkirkan dari jabatannya secara tidak layak. Aku yakin kejadian seperti yang dialami oleh Max Havelaar masih tetap ada dan justru menjamur di jaman saat ini. Meskipun jaman saat ini dianggap sudah sangat maju daripada saat Max Havelaar hidup, tetap saja banyak orang yang lebih mementingan keuntungan mereka daripada nasib sesamanya. Namun ini tidak berarti kita harus memaklumi tindakan-tindakan tersebut. Aku yakin pasti akan ada Max Havelaar, Max Havelaar lain di tiap-tiap jaman yang akan gigih menegakkan kebenaran dan keadilan demi kepentingan rakyat. Sudah sepantasnya kita menyadari bahwa jabatan yang nantinya atau yang saat ini kita emban hanyalah titipan yang seharusnya kita jaga bukan justru menodainya dengan lumpur. Sama halnya seperti kata-kata Multatuli pada akhir buku, mungkin tulisanku kali ini agak berantakan karena jujur aku bingung bagaimana cara mengungkapkan isi buku yang sangat istimewa ini. Membaca buku ini sangat menguras hati dan pikiran serta mengoyak hati nurani ku. Namun aku tak peduli, karena setidaknya yang terpenting tulisan ini nantinya akan dibaca oleh kalian semua yang akan penasaran dengan kisah lengkap Max Havelaar ini sehingga langsung membaca dari bukunya.. hahaha 😂. Sekian :)
Apakah banyaknya kesalahan yang sudah kita anggap lumrah, banyaknya ketidakadilan yang kita pikir benar berasal dari fakta bahwa kita telah kelamaan duduk dengan teman yang sama di dalam kereta pelancong yang sama? ― Eduard Douwes Dekker

Penulisannya resume buku nya sangat baik, jadi enak bacanya.
BalasHapusSemoga ada max havelar berikutnya & berani mengungkapkan kebenaran.
Makasih kak.. iyaa semoga baik saya ataupun kakaknya bisa mengikuti langkah beliau jga kelak :)
Hapus