Langsung ke konten utama

Kamu harus keluar dari daerahmu!

Kita hidup di dunia yang penuh dengan keberagaman, baik itu suku/etnis, budaya, agama, maupun bentang alamnya. Kita tidak akan pernah tau kondisi di tempat lain jika tidak pernah menjajakinya. Orang yang tidak pernah keluar dari daerahnya cenderung berpikiran sempit. Hal ini disebabkan karena keterbatasan dalam berpikir yang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang berlaku dalam lingkungan tempat tinggal yang sejenis. Tidak perlu keluar hingga ke tempat yang terlalu jauh, seperti keluar negeri. Cukup keluar dari golonganmu, kotamu, atau bahkan pulaumu. Niscaya kamu akan melihat banyaknya perbedaan diluar sana yang dapat memperkaya wawasan dan cara berpikir kita dalam menatap dunia. Begitu hebatnya ciptaan Sang Maha Kuasa, menciptakan beraneka macam makhluk dan detail bentang alam yang berbeda. Kita sebagai makhluk ciptaanNya yang dapat berpikiran kompleks disatukan atas dasar satu kesamaan, yakni manusia. Perbedaan golongan, budaya, warna kulit maupun bentang alam tempat kita tinggal menjadik...

Berkaca dari Sekali Peristiwa di Banten Selatan


Judul: Sekali Peristiwa di Banten Selatan
Tahun penulisan: 1958
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Jumlah halaman: 132 halaman

Pada kata pengantar dari penulis yang terdapat di awal buku, beliau menyebutkan bahwa novel ini merupakan buah pemikirannya setelah melakukan kunjungan selama beberapa waktu lamanya di wilayah Banten Selatan. Kala itu penulis terpesona dengan kondisi alam yang masih perawan dan subur di wilayah tersebut. Benar saja, penulis berhasil menyelipkan deskripsi kondisi alamnya dengan sangat apik pada tulisannya sampai aku pun penasaran wilayah Banten Selatan manakah yang dimaksud beliau.. haha. Akan tetapi, dibalik pesonanya itu juga terdapat permasalahan-permasalahan yang harus segera dipecahkan oleh masyarakat sekitarnya, terutama permasalahan kesejahteraan dan minimnya ketersediaan bahan pangan. Beliau berharap melalui tulisan yang dibuatnya ini ia dapat menyumbangkan pikirannya, sedikit atau banyak, untuk membangun kesejahteraan hidup khususnya di daerah tersebut dan umumnya bagi seluruh tanah air. Sungguh mulia tujuan beliau 😊 Langsung saja kita bahas isi novelnya, yuk!

Novel ini mengisahkan tentang kehidupan seseorang bernama Ranta yang tinggal di sebuah gubuk bambu beratap rumbia bersama istrinya yang bernama Ireng. Berlatar di sebuah desa di wilayah Banten Selatan ketika Indonesia sudah memerdekakan dirinya pada 17 Agustus 1945 tetapi kondisi masyarakatnya belum nampak sepenuhnya merdeka. Masyarakat yang selama ini terjajah mulai berusaha bangkit untuk meraih kesejahteraannya, akan tetapi mereka masih dihantui dengan adanya serangan-serangan dari sejumlah golongan yang dianggap kontra dengan pemerintah kala itu (dalam buku pelajaran sekolah dan novel ini disebut sebagai pemberontak DI). Ranta adalah seorang buruh kasar miskin yang berusaha menghidupi keluarga kecilnya dengan mengupayakan berbagai pekerjaan. Niatannya itu beberapa kali dimanfaatkan oleh Juragan Musa yang menyuruhnya untuk mencuri bibit karet di onderneming (perusahaan perkebunan). Juragan Musa selalu mengintimidasi sehingga Ranta mau tidak mau menuruti kemauannya. Akan tetapi, bukannya untung tapi justru buntung yang selalu didapatkannya. Selama ini Ranta selalu berusaha untuk bersabar ketika apa yang ia dapat dari usahanya mematuhi perintah Juragan Musa mencuri bibit karet bukannya upah tetapi justru pukulan rotan, fitnah, dan ancaman penjara. Ranta merasa takut dan tidak ada daya untuk membela dirinya karena ia hanyalah rakyat miskin, sedangkan Juragan Musa adalah orang kaya yang memiliki kuasa. Pikirnya, tentunya pihak yang berwajib akan lebih percaya pada Juragan Musa dibandingkan dia.

Hingga tiba saatnya Ranta sudah bosan takut. Ia sudah bosan putus asa. Benar saja, ketika Juragan Musa mendatangi gubuk Ranta untuk menyuruhnya mencuri bibit karet lagi, ia menolaknya. Ranta bahkan berani menggertak Juragan Musa hingga Juragan Musa lari terbirit-birit dan meninggalkan tongkat serta tas miliknya. Ranta tak berani mengambil kedua benda yang terjatuh tersebut. Ia khawatir nantinya dia akan dikambinghitamkan oleh Juragan Musa gara-gara mengambil benda-benda tersebut. Melalui salah seorang kawan yang sama-sama pernah ditipu oleh Juragan Musa, Ranta mengetahui bahwa tas tersebut berisi bukti-bukti tertulis atas kerjasama Juragan Musa dengan gerombolan pemberontak DI. Kawan tersebut mengungkapkan bahwa alasan selama ini Juragan Musa tidak pernah diganggu oleh gerombolan pemberontak DI, padahal warga desa lainnya kerap kali diteror oleh gerombolan tersebut, tidak lain karena dia juga merupakan bagian dari gerombolan itu. Tentunya Ranta, Ireng, dan kawan lain yang mendengarkan tidak menyangka bahwa Juragan Musa merupakan bagian dari gerombolan pemberontak DI. Padahal dahulu Juragan Musa juga merupakan kawan yang berjuang bersama untuk mengalahkan kompeni dan Jepang. Setelah berdiskusi, Ranta, Ireng, dan 3 orang kawannya pun memutuskan untuk melaporkan perbuatan Juragan Musa pada Komandan OKD (Organisasi Keamanan Desa) dengan membawa serta tas itu sebagai bukti.

Juragan Musa yang mengetahui tasnya tertinggal di gubuk Ranta mulai panik. Ia khawatir Ranta membuka tas itu dan apa yang selama ini dirahasiakannya terbongkar ke pihak yang berwajib. Selang beberapa saat, Juragan Musa mendapat kabar dari salah seorang pembantunya bahwa ia bertemu dengan Ranta dan 4 orang lainnya yang sedang dalam perjalanan untuk melaporkan Juragan Musa kepada Komandan OKD. Juragan Musa kemudian segera memanggil Pak Kasan, anak buahnya di gerombolan pemberontak DI. Ternyata selama ini Juragan Musa adalah salah seorang pembesar DI, lebih tepatnya menjabat sebagai Residen. Nyonya, istri Juragan Musa, pun syok mendengar percakapan antara suaminya dengan Pak Kasan tersebut. Ia sebenarnya membenci keberadaan gerombolan pemberontak itu, karena kedua orang tuanya tewas di tangan gerombolan pemberontak mereka. Namun karena Nyonya teringat pada janji pernikahannya, ia berusaha setia pada janji yang terlanjur diucapkannya tersebut dan suka tidak suka ia mempertahankan pernikahannya dengan Juragan Musa. Setelah mendapat perintah untuk menghabisi Ranta, Pak Kasan pun segera pergi menuju gubuk Ranta. Karena Pak Kasan dan beberapa anggota gerombolan pemberontak tidak menemukan Ranta di gubuknya, mereka pun membakar gubuk Ranta.

Tidak lama setelah Pak Kasan meninggalkan rumah Juragan Musa, Komandan OKD tiba di rumah Juragan Musa untuk menangkapnya. Awalnya Juragan Musa tidak mau mengakui dirinya sebagai bagian dari gerombolan pemberontak DI. Ketika Komandan menyuruh Ranta masuk dan menunjukkan bukti-bukti yang ditemukannya, Juragan Musa masih berusaha berkelit membantah tuduhan tersebut. Namun ketika Pak Lurah dan Pak Kasan yang datang ke rumahnya secara bergantian untuk melaporkan kondisi terkini gerombolan pemberontak serta menyebut Juragan Musa sebagai 'Pak Residen', Juragan Musa pun tidak bisa berkelit lagi. Akhirnya Komandan dan pasukan OKD berhasil menangkap dan memberantas gerombolan pemberontak di bawah pimpinan Juragan Musa tersebut, termasuk Pak Kasan dan Pak Lurah. Karena posisi Lurah menjadi kosong, Komandan mengangkat Ranta sebagai Lurah selanjutnya dan mengajak Ranta untuk bekerjasama menciptakan kedamaian di desa tersebut. Ranta pun menerima penunjukan atas dirinya. Ranta dan Ireng akhirnya tinggal di rumah Juragan Musa atas permintaan Nyonya Musa sekaligus untuk menemaninya karena toh mereka tidak memiliki tempat lagi untuk bernaung. Semenjak kejadian tersebut Nyonya Musa menjadi tertekan kejiwaannya dalam waktu yang cukup lama namun pada akhirnya ia berhasil pulih dan memilih untuk mengabdikan hidupnya untuk kemajuan masyarakat desa.

Singkat cerita, Ranta yang sudah menjadi Pak Lurah tersebut berusaha memupuk rasa persatuan dan keinginan bergotong-royong di kalangan masyarakat di desa tersebut. Dia percaya bahwa dengan bersatu, segala permasalahan dapat diselesaikan. Kebahagiaan setiap orang cuma dapat dilaksanakan oleh semua orang, yakni melalui persatuan, kerukunan, dan persaudaraan. Jika mereka semua tidak mau bersatu, mereka akan berkelahi terus menerus satu dengan yang lain hingga berlaku hukum rimba 'barangsiapa kuat, dia yang jadi pemenang'. Orang-orang yang lemah kemana pun dia pergi, apapun yang dia kerjakan, dia akan tetap menjadi mangsa bagi orang-orang yang kuat. Ketika orang-orang yang lemah tersebut hanya berpasrah menerima keadaan dan percaya 'yang benar juga akhirnya yang menang', justru orang-orang kuat lah yang akan terus-terusan berjaya. Pada akhirnya Ranta berhasil meyakinkan masyarakat desa tersebut untuk saling gotong-royong guna mengatasi segala permasalahan yang terjadi di desa. Berkat usahanya tersebut, masyarakat yang bergotong-royong bersama pasukan OKD berhasil mengusir gerombolan pemberontak Oneng yang meneror desa dan membangun waduk, serta akan membuka perladangan baru untuk megatasi permasalahan bahan pangan mereka.

Menarik bukan? Pesan persatuan yang dimasukkan penulis pada ceritanya ini sungguh mengena, bahkan hingga di jaman sekarang. Masalah kemasyarakatan dan kenegaraan bukan khusus masalah pemimpin dan pemerintah saja, tetapi juga masalah kita semua yang harus dipecahkan bersama, dimana setiap orang wajib dan/atau berhak memiliki sumbangsih dalam kerja pembangunan di negara ini. Bukan justru saling menyalahkan atau mencari alasan pembenar atas kesalahan atau bahkan tidak mau menerima masukan. Bukankah kemerdekaan negara ini juga didapatkan dari para pahlawan yang bersatu mengesampingkan ego dan kepentingan mereka? Tidakkah kita seharusnya malu kepada pejuang, yang bahkan kebanyakan dari mereka gugur tanpa nama, yang sudah rela menumpahkan darah dan nyawanya demi kemerdekaan tanah air jika kita masih terus mementingkan kepentingan sendiri? Semoga bisa menjadi bahan renungan bagi mereka yang dalam pikirannya masih berkeinginan untuk memangsa sesamanya. Sekian. 


Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar ― Pramoedya Ananta Toer

Komentar