Kita hidup di dunia yang penuh dengan keberagaman, baik itu suku/etnis, budaya, agama, maupun bentang alamnya. Kita tidak akan pernah tau kondisi di tempat lain jika tidak pernah menjajakinya. Orang yang tidak pernah keluar dari daerahnya cenderung berpikiran sempit. Hal ini disebabkan karena keterbatasan dalam berpikir yang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang berlaku dalam lingkungan tempat tinggal yang sejenis. Tidak perlu keluar hingga ke tempat yang terlalu jauh, seperti keluar negeri. Cukup keluar dari golonganmu, kotamu, atau bahkan pulaumu. Niscaya kamu akan melihat banyaknya perbedaan diluar sana yang dapat memperkaya wawasan dan cara berpikir kita dalam menatap dunia. Begitu hebatnya ciptaan Sang Maha Kuasa, menciptakan beraneka macam makhluk dan detail bentang alam yang berbeda. Kita sebagai makhluk ciptaanNya yang dapat berpikiran kompleks disatukan atas dasar satu kesamaan, yakni manusia. Perbedaan golongan, budaya, warna kulit maupun bentang alam tempat kita tinggal menjadik...
Tahun penulisan: 1943
Penulis: Antoine de Saint-Exupéry
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 118 halaman
Buku ini walau dari judul serta covernya nampak seolah merupakan cerita anak-anak, namun penulisnya sengaja mempersembahkan tulisannya ini untuk dinikmati dan direnungkan oleh orang dewasa. Tak luput juga didalamnya terdapat beberapa ilustrasi dari pengarang untuk memudahkan orang dewasa memahami isi ceritanya. Buku ini lebih tepat dikatakan sebagai buku perenungan. Ya begitulah kiranya menurutku. Karena cerita dalam buku ini sebenarnya sungguh sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa seorang anak kecil berpindah dari satu planet ke planet lain hanya dengan memanfaatkan migrasi burung liar? Manusia saja butuh waktu beratus tahun untuk mengembangkan pesawat ulang-alik dan menerbangkan manusia ke luar angkasa.. haha. Well, aku rasa penulis dalam hal ini sengaja mengajak kita, orang dewasa, untuk sejenak kembali menjadi anak kecil dimana saat itu imajinasi kita masih liar, tanpa ada batasan logika dan norma. Jika kalian membaca buku ini dengan melakukan hal seperti itu, aku yakin kalian akan bisa menangkap maksud yang tersirat di dalamnya.. hehe. Oke, let's check out this review!
Kisah bermula ketika tokoh 'aku' mengingat masa lalunya dimana saat ia berumur 6 tahun, ia pernah melihat gambar seekor ular sanca sedang menelan seekor binatang buas pada sebuah buku tentang rimba raya. Ia takjub mendengarkan deskripsi yang mengatakan bahwa ular sanca menelan mangsanya bulat-bulat tanpa mengunyahnya dan mereka akan tidur selama 6 bulan untuk mencerna mangsanya tersebut. Seketika ia pun berimajinasi tentang hal itu dan berusaha menggambar hasil imajinasinya menggunankan pensil warna (Mohon maaf tidak bisa menampilkan gambarnya disini karena khawatir melanggar kebijakan copyright.. hehe). Akan tetapi, setiap orang dewasa yang melihat hasil gambarnya selalu salah menebak gambarnya sehingga ia harus menjelaskan gambar apa itu sesungguhnya. Ketika orang dewasa sudah mengetahui itu gambar apa, mereka malah menyuruhnya untuk lebih meperhatikan ilmu-ilmu lain yang bagi orang dewasa lebih berguna, seperti ilmu bumi, menghitung, sejarah, ataupun tata bahasa. Hal itu membuat tokoh aku patah semangat dan tidak pernah melanjutkan gambarannya lagi. Baginya orang-orang dewasa sangat menjemukkan. Mereka tidak pernah mengerti apa-apa sendiri dan justru anak-anak yang harus memberi penjelasan pada mereka terus-menerus. Akhirnya tokoh aku memilih untuk belajar mengendarai pesawat terbang.
Pada halaman-halaman selanjutnya dijelaskan tentang peristiwa terkini, ketika tokoh aku menjadi dewasa, dimana akibat pesawat terbang yang dikendarainya mogok dan terdampar di tengah Gurun Sahara, Afrika. Disana ia bertemu dengan tokoh pangeran cilik. Awalnya pangeran cilik meminta untuk digambarkan seekor domba dan tokoh aku pun berusaha menggambarkannya. Tokoh aku menjadi terheran karena pangeran cilik lebih menyukai gambarnya yang berupa peti dengan domba yang hanya ada dalam imajinasinya dibandingkan dengan gambar-gambar domba lain yang memiliki wujud. Bahkan pangeran cilik bisa persis memahami imajinasi tersebut dan melanjutkan imajinasinya. Pertama kali bertemu dengan tokoh aku sebenarnya pangeran cilik seperti tertutup, tidak mau menceritakan mengenai asal-usulnya. Namun perlahan-lahan pangeran cilik mulai terbuka pada tokoh aku. Pangeran cilik bercerita bahwa ia berasal dari planet lain, sebuah planet yang besarnya tidak lebih dari sebuah rumah.
Planet tempat asal pangeran cilik memiliki 2 gunung berapi aktif berukuran kecil yang biasa ia gunakan untuk memanaskan sarapannya. Akan tetapi, ia harus membersihkannya secara teratur agar kedua gunung tersebut tidak meletus. Selain itu, di planet itu juga terdapat sebuah gunung mati dan bunga-bunga sederhana yang tumbuh saat matahari terbit dan menjadi layu saat matahari tenggelam. Pangeran cilik mengungkapkan bahwa ia tinggal disana seorang diri, sehingga ia harus melaksanakan kegiatan merawat planetnya tersebut sendiri, termasuk mencabuti akar pohon baobab. Pohon baobab sangat subur tumbuh di planetnya namun jika hal tersebut dibiarkan planetnya akan meledak karena akar baobab bisa merusak permukaan planetnya yang ukurannya sangat kecil.
Suatu ketika di planet pangeran cilik tumbuh sekuntum mawar merah yang sangat cantik dan harum. Mawar itu bisa berbicara. Pangeran cilik sangat terpukau dan jatuh hati dibuatnya, sehingga ia selalu melayani permintaan mawar tersebut, sekalipun itu hanya permintaan remeh. Namun sifat angkuh dan cepat marah yang dimiliki oleh mawar tersebut membuat pangeran cilik merasa lelah. Ditambah akibat melayani permintaan-permintaan remeh dari mawar, pangeran cilik merasa sengsara dan tersiksa. Ia pun memanfaatkan migrasi burung-burung liar untuk melarikan diri dari planetnya, meninggalkan mawar yang sungguh ia cintai.
Sebelum tiba di Bumi, pangeran cilik pernah singgah ke 6 planet. Planet pertama didiami seorang raja yang bersemayam di sebuah singgasana sederhana tetapi megah. Raja itu ingin agar kekuasaannya disanjung. Ia suka memerintah dan tidak menerima ketidakpatuhan. Walau begitu menurutnya perintah yang ia berikan adalah perintah yang masuk akal. Pangeran cilik memiliki sebuah permintaan kepada raja yang mengaku berkuasa atas semesta itu, yakni ia ingin melihat matahari tenggelam. Raja pun mengabulkan permintaan tersebut. Namun menurut ilmu pemerintahan sang raja, permintaan tersebut dapat dikabulkan jika kondisinya sudah sesuai karena perintah-perintah dari raja masuk akal, sehingga mereka harus menunggu. Lalu kapankah permintaan tersebut akan terjadi? Menurut raja, akan terjadi malam ini sekitar pukul 7.40. Padahal waktu itu merupakan waktu normalnya matahari tenggelam di planet itu, bahkan tanpa diperintah raja.. wkwk. Karena sadar permintaannya gagal dan pangeran cilik mulai bosan mendengar titah-titah raja yang menurutnya aneh, ia pun meninggalkan raja tersebut seorang diri di planetnya dan melanjutkan perjalanan.
Planet kedua didiami seorang yang sombong. Semua orang dianggap sebagai pengagumnya. Saat menyapanya, perhatian pangeran cilik tertuju pada topi tinggi berwarna kuning yang ia gunakan. Orang sombong menyuruh pangeran cilik untuk bertepuk tangan. Kemudian dengan sikap rendah hati orang sombong mengangkat topinya dan melambai. Tiap kali pangeran cilik bertepuk tangan, orang sombong melakukan hal yang sama. Pangeran cilik menganggap respon itu lucu dan melakukannya selama 5 menit hingga ia merasa jenuh. Ketika selanjutnya pangeran cilik bertanya apa yang harus dilakukan agar topi itu jatuh, orang sombong tidak meresponnya sama sekali. Tentu saja, karena orang sombong hanya ingin mendengar pujian semata. Pangeran cilik pun pergi dari planet itu.
Planet ketiga didiami seorang pemabuk. Pangeran cilik menyempatkan bertanya dan mendapati jawaban bahwa pemabuk itu mabuk untuk melupakan rasa malu karena ia minum alkohol (???). Pangeran cilik pun berlalu dari planet itu dengan serba kebingungan. Planet keempat didiami seorang pengusaha yang sibuk menghitung. Ia menghitung bintang-bintang di langit yang menurutnya bisa menjadikannya kaya. Menurutnya, karena tidak ada siapapun yang mengaku memiliki bintang-bintang di angkasa dan ia menjadi yang pertama memikirkannya maka bintang-bintang itu menjadi miliknya. Pengusaha itu selanjutnya akan mengelola bintang-bintangnya dengan menuliskan jumlah bintang-bintangnya pada secarik kertas untuk selanjutnya dikunci dalam laci di bank. Pangeran cilik tidak bisa menangkap tujuan pengusaha memiliki bintang-bintang di angkasa tersebut. Karena baginya, jika seseorang memiliki sesuatu maka akan berlaku hukum timbal balik: give and take. Jika bintang-bintang itu ada gunanya bagi pengusaha lalu apa guna pengusaha bagi bintang-bintang itu, tanyanya pada pengusaha. Pengusaha tidak bisa menjawabnya dan pangeran cilik pun berlalu.
Planet kelima didiami oleh seorang penyulut lentara dan sebuah lentera. Penyulut lentera selalu menyalakan lenteranya saat malam dan memadamkannya saat pagi hari. Awalnya pangeran cilik tidak dapat mengerti apa gunanya menyalakan lentera di tengah-tengah angkasa, di suatu planet tanpa rumah dan penduduk itu. Setelah ditanyakan, ternyata itu adalah aturan yang harus dilaksanakan si penyulut lentera. Namun pekerjaan itu sesungguhnya menyiksa penyulut lentera karena menyebabkan ia harus kehilangan waktu istirahatnya. Dulu pekerjaan itu masih masuk akal, penyulut lentera masih bisa istirahat di sisa harinya dan tidur pada sisa malamnya. Akan tetapi, ketika planetnya tahun demi tahun berputar semakin cepat yang mana sekarang berotasi (planet berputar pada porosnya) sekali dalam satu menit dan tidak ada aturan yang berubah, maka penyulut lentera harus menyalakan dan mematikan lenteranya sekali setiap semenit. Sungguh ia sangat taat pada peraturannya yang sangat kaku itu.
Planet keenam didiami oleh seorang ahli ilmu bumi yang menulis buku-buku mahatebal. Tetapi ketika pangeran cilik menanyakan keberadaan samudra, gunung, kota, sungai, dan gurun yang ada di planet ahli ilmu bumi tersebut ia berkata tidak mengetahuinya. Baginya, yang bertugas untuk mengetahui itu semua adalah penjelajah. Tugas ahli ilmu bumi adalah menerima para penjelajah lalu mencatat kenangan-kenangan mereka. Selanjutnya, memastikan kebenaran ucapan penjelajah tersebut dengan menyuruh mereka memberikan bukti kepadanya. Menurutnya, seorang ahli ilmu bumi tidak perlu meninggalkan kantornya karena mereka berpangkat terlalu tinggi untuk sekedar berjalan-jalan seperti penjelajah. Ahli ilmu bumi itu pun menyuruh pangeran cilik untuk mendeskripsikan tentang planetnya, karena menurutnya pangeran cilik merupakan penjelajah. Ketika pangeran cilik menceritakan bagian tentang mawar merah miliknya, ahli ilmu bumi itu nampak tidak peduli. Ahli ilmu bumi berpendapat bahwa bunga bersifat temporer, yakni diancam kemusnahan beberapa lama lagi. Pangeran cilik yang mendengarnya menyesal meninggalkan mawar merah miliknya sendiri di planetnya. Kemudian perjalanan pangeran cilik berlanjut ke Bumi. Planet kitaaaa!!! ❤❤❤
Pangeran cilik sangat takjub dengan Bumi yang besarnya beribu-ribu kali lipat dibandingkan dengan planetnya dan memiliki bentang alam yang beragam nan indah. Ia mendarat di Gurun Sahara dan sama sekali tidak menemukan manusia. Sehingga ia berjalan dan terus berjalan.. melewati gurun, gunung yang tinggi, batu karang, salju, dan jalanan. Sebelum bertemu tokoh 'aku', pangeran cilik sebenarnya bertemu dengan seekor ular derik, sekuntum bunga berkelopak tiga, sekebun bunga mawar merah, dan seekor rubah. Rubah tersebut menjadi teman bagi pangeran cilik selama beberapa waktu. Mereka selalu bermain dan berlari dengan riang gembira. Suatu ketika rubah berhasil menyadarkan pangeran cilik mengenai arti penting keberadaan mawar merah miliknya. Hal itu membuatnya makin menyesali perbuatannya meninggalkan mawar merahnya. Pangeran cilik pun meninggalkan rubah untuk dapat kembali ke mawarnya. Selama perjalanan kembali ke gurun, pangeran cilik bertemu dengan seorang tukang wesel kereta api dan seorang pedagang pil canggih yang dapat menghilangkan rasa dahaga. Namun dalam review kali ini tidak akan menjelaskan detail tentang perjumpaan pangeran cilik dengan beberapa makhluk di Bumi itu, karena aku yakin akan menjadikan review ini lebih dan lebih panjang lagi. Jadi buat yang kepo banget bisa coba beli bukunya aja ya guys.. haha.
Semua itu diceritakannya pada tokoh aku hingga hari ke-8 ia terdampar di Gurun Sahara. Perbekalan air milik tokoh aku pada hari itu habis sehingga mereka mau tidak mau harus mencari sumur terdekat di tengah gurun. Semula tokoh aku mengkhawatirkan kondisinya, kapal terbangnya mogok dan ia tidak yakin dapat memperbaikinya seorang diri, perbekalan airnya habis yang tidak mungkin mencari sumur di tengah gurun maha luas itu, ia harus berjalan sejauh apa. Bisa-bisa ia mati di tengah gurun tanpa diketahui semua orang, pikirnya. Akan tetapi, berkat ucapan pangeran cilik ia tidak lagi mengkawatirkan semua itu. Selama perjalanan mencari sumur, percakapan dengan pangeran cilik berhasil meyakinkan tokoh aku tentang arti penting tujuan hidup dan keberadaan orang-orang di sekitarnya. Tokoh aku menjadi tidak ingin menyerah semudah itu. Tak lama setelahnya mereka menemukan sebuah sumur yang tampak aneh, karena seolah seperti sumur-sumur yang ada di desa, lengkap dengan kerekan, ember, dan tambang. Padahal di sekitar situ tidak ada desa dan bahkan tidak ada sosok manusia lain. Setelah cukup mengambil air, tokoh aku meninggalkan pangeran cilik di tempat itu untuk kembali ke tempat pesawat terbangnya berada guna memperbaikinya. Itu semua atas perintah pangeran cilik dan dia berjanji akan menunggu tokoh aku disana.
Esok sorenya tokoh aku kembali mendatangi tempat pangeran cilik, karena pesawatnya sudah selesai ia perbaiki, diluar dugaan pikirnya. Ia melihatnya berbicara dengan seekor ular derik. Pangeran cilik menceritakan pembicaraannya dengan ular derik kepada tokoh aku. Pangeran cilik berencana kembali ke planetnya untuk menjumpai mawarnya malam nanti menggunakan bantuan dari ular derik. Ia mengatakan walau nantinya akan nampak seperti dirinya mati namun sesungguhnya ia pergi ke planetnya. Tokoh aku sebenarnya tidak mau melepaskan pangeran cilik untuk pergi karena ia sudah sangat menyayangi pangeran cilik meski baru beberapa hari bertemu. Tengah malam ketika tokoh aku tiba-tiba terbangun dari tidurnya ia tidak bisa menemukan pangeran cilik di sampingnya. Ia berusaha mencarinya. Ketika bertemu dengan pangeran cilik, pangeran cilik menyuruhnya pergi karena perpisahan itu akan nampak menyedihkan namun tokoh aku tidak ingin membiarkannya sendiri. Pangeran cilik ingin bertanggungjawab atas mawar merah yang ia cintai sehingga ia harus kembali ke planetnya. Nampak seperti satu kilat kuning (sepertinya penggambaran atas si ular derik) di kaki pangeran cilik dan pangeran cilik rebah tak bersuara bagaikan pohon tumbang di atas pasir.
Enam tahun berlalu. Tokoh aku kembali menjalani rutinitasnya sebagai orang dewasa. Tapi sekarang ada yang berbeda. Karena setiap malam ia akan tersenyum memandang bintang-bintang di langit seraya berharap salah satu bintang itu adalah planet pangeran cilik.
Semoga pembaca tidak bingung ketika membaca tulisan ini. Karena jujur sebenarnya aku sendiri bingung bagaimana cara menceritakan kembali isi dari buku ini. Ada beberapa penggambaran dari penulis yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.. haha. Tapi inti dari buku ini, menurutku, adalah ingin membebaskan pikiran orang dewasa. Ketika kita semua masih anak-anak kita bebas melakukan apapun, bebas berimajinasi apa saja, tanpa mengkhawatirkan pandangan orang di sekitar kita. Namun ketika beranjak dewasa beberapa orang tua mulai melakukan pembatasan-pembatasan orang dewasa, tidak boleh ini dan tidak boleh itu. Hal itu menyebabkan pikiran semasa anak-anak kita terkekang dalam alam bawah sadar. Kita tumbuh menjadi seseorang yang mengkhawatirkan pandangan orang lain atas sesuatu yang akan kita lakukan, takut tidak memiliki teman di sekolah, takut memulai pertanyaan pada guru, takut tulisannya tidak dapat diterima pembaca, takut berpendapat di forum, takut mengungkapkan perasaan pada lawan jenis, dan ketakutan lainnya. Seringkali orang dewasa terlalu banyak berpikiran seperti itu hingga akhirnya tidak bisa atau tidak jadi untuk memulainya. Sebenarnya pikiran-pikiran seperti itu sah-sah saja namun kita tidak perlu terlalu takut dibuatnya karena di satu sisi pikiran itulah yang mampu mengendalikan keliaran kita. Sekian. Clean up your mind and start doing!
Hanya lewat hati kita bisa melihat dengan baik, yang terpenting tidak tampak di mata ― Antoine de Saint-Exupéry

Komentar
Posting Komentar